Rabu, 14 September 2016

Kayu Sonobrit



Kayu Sonobrit dikenal sebagai kayu mewah yang asli pulau Jawa, Indonesia. Bersama dengan kayu jati, Sonokeling menjadi primadona. Selain mempunyai tingkat keawetan sangat baik dan kuat, tektur kayu ini khas dan indah. Tidak mengherankan jika harganya pun menjadi mahal. Sayangnya, tumbuhan asli Indonesia (Jawa) ini mulai sulit ditemukan di habitat aslinya, Daftar Merah IUCN mendaftarnya sebagai spesies Vulnerable (rentan).

Nama latin tumbuhan ini adalah Dalbergia latifolia Roxb., dengan nama sinonimAmerimnon latifolium (Roxb.) Kuntze dan Dalbergia emarginata Roxb. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan beberapa sebutan seperti Indonesian Rosewood, Bombay Blackwood, Indian Rosewood, Malabar Rosewood, dan Java palisander. Sedang di Indonesia Sonokeling terkadang disebut Linggota, Sono Sungu, atau Sonobrit.

Sonobrit merupakan tumbuhan penghasil kayu keras dari famili (suku) Leguminosae (atau disebut juga Fabaceae). Pohonnya berukuran sedang hingga besar dengan tinggi mencapai antara 20-40 meter. Batangnya mampu memiliki diameter hingga 1,5 meter. Pepagan (kulit bagian luar) berwarna abu-abu kecoklatan dengan alur pecah-pecah membujur.


Sumber :
https://www.tokoperhutani.com/article/detil/kayu-sonobrit

Kayu Pinus



Kayu Pinus

Terdapat lebih dari 20 jenis kayu pinus dengan nama species yang berbeda. Jenis kayu pinus yang sering digunakan dan secara umum dikenal memiliki kualitas yang baik ada 2 jenis kayu pinus yaitu Pinus Radiata dan Pinus Merkusii. PINUS RADIATA (Radiata Pine) Area Tumbuh: Australia (740 ribu hektar), Chili (sekitar 1,3 juta hektar), Selandia Baru (1,2 juta hektar), Afrika Selatan dan Amerika. Hutan paling besar untuk kayu ini diketahui adalah dari Chili. Beberapa eksporter juga berasal dari Selandia Baru namun tidak murni plantation. Biasanya Selandia Baru mengekspor kayu ini sudah dalam bentuk S2S atau S4S. Pohon: Antara 15 - 25 tahun kayu Pinus Radiata bisa memiliki diameter batang 30 - 80 cm dan tinggi antara 15 - 30 meter. Pinus Radiata termasuk jenis pohon yang cepat tumbuh dan berbatang lurus. Warna Kayu: Kayu teras berwarna merah kecoklatan dan kayu gubal berwarna kuning dan krem. Garis lingkaran tahun pinus radiata lumayan jelas terlihat sehingga garis serat kayu pada pembelahan tangensial bisa terlihat jelas pula. Densitas: 480 - 520 kg/m3 pada MC 12% Serat kayu: Cenderung lurus tapi terdapat banyak mata kayu karena pohon pinus radiata memiliki banyak cabang kecil pada batangnya. Pengeringan: sekitar 12 - 15 hari untuk mendapatkan MC level 12% Proses mesin: Mudah pengerjaan, termasuk lunak untuk pisau. - See more at: http://www.tentangkayu.com/2008/06/kayu-pinus.html#sthash.5rMmRzjA.dpuf


Kayu Sengon


Sengon


Daun-daun sengon, Albizia chinensis

Status konservasi

Tidak dievaluasi (IUCN 3.1)

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan:

Plantae

(tidak termasuk):

Angiospermae

(tidak termasuk):

Eudikotil

(tidak termasuk):

Rosidae

Ordo:

Fabales

Famili:

Fabaceae

Genus:

Albizia

Spesies:

A. chinensis

Nama binomial

Albizia chinensis
(Osbeck) Merr. (1916)[1]

Sinonim

Mimosa chinensis Osbeck (1757)[2]
Acacia stipulata de Candolle
Albizia marginata (Lamk) Merrill

Sengon (Albizia chinensis) adalah sejenis pohon anggota suku Fabaceae. Pohon peneduh dan penghasil kayu ini tersebar secara alami di India, Asia Tenggara, Cina selatan, dan Indonesia.[3]

Di beberapa daerah, pohon ini dikenal sebagai séngon, singon, sengon jåwå (Jw.); jeungjing, jeungjing sunda (Sd.); séngghung (Md.; marÄ•wita, keura Sumba[4], dan lain-lain. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai silk tree, Chinese albizia; di samping itu, pohon ini juga dinamai: kōōl (Kamboja), kha:ng (Laos), khang hung, kang luang (Thai), cham (Vietnam), dan lain-lain[3].

Pengenalan



Batang dan pepagan

Pohon yang menggugurkan daun; berukuran sedang hingga tinggi, 30–45 m, dan gemang batangnya 70(–140) cm. Pepagan agak halus, di luarnya abu-abu gelap, dengan gigir-gigir melintang, berlentisel, tipis; pepagan bagian dalam setebal 5 mm, merah jambon. Ranting-ranting muda bersegi dan berambut.[3]

Daun-daun majemuk menyirip berganda, dengan 4–14 pasang sirip; tulang daun utama 10–25 cm, berambut, dengan kelenjar dekat pangkal tangkai daun dan pada pertemuan tulang sirip[3]. Daun penumpu besar, bundar telur miring dengan pangkal yang setengah berbentuk jantung, seperti membran, dengan ekor di ujungnya; lekas rontok [5][6] . Sirip-sirip 4–14 cm panjangnya, dengan 10–45 anak daun per sirip, duduk, berhadapan[3]. Anak daun memanjang sampai bentuk garis, dengan ujung runcing, miring, sisi bawah hijau biru, 6–13 × 1,5–4 mm, tulang daun tengah sangat dekat dengan tepi atas[6].

Bunga majemuk berbentuk bongkol yang bertangkai, yang terkumpul lagi menjadi malai yang panjangnya 15–30 cm[6]. Bongkol berisi 10–20 kuntum bunga[5]. Bunga berbilangan-5; dengan kelopak bergigi, tinggi lk 4 mm, berambut; tabung mahkota bentuk corong, kuning hijau, tinggi lk 7 mm, berambut[6]. Benang sari 10 atau lebih, panjang lk 3 cm, putih, di atas hijau, pangkalnya menyatu membentuk tabung, yang kurang lebih setinggi mahkota[6]. Buah polong panjang 10–18 cm × 2–3,5 cm, tidak membuka, patah-patah tidak teratur[6]. Biji pipih, jorong, 7 × 4–5 mm[5][6].

Ekologi dan agihan



Polongan

Sengon dijumpai secara alami di hutan luruh daun campuran di wilayah lembab dan ugahari, dengan curah hujan antara 1.000–5.000 mm pertahun. Pohon ini didapati pula di hutan-hutan sekunder, di sepanjang tepian sungai, dan di sabana, hingga ketinggian 1.800 m dpl. Sengon beradaptasi dengan baik pada tanah-tanah miskin, ber-pH tinggi, atau yang mengandung garam; juga tumbuh baik di tanah aluvial lateritik dan tanah berpasir bekas tambang.[7]

Sebaran alami sengon meliputi India, Burma, Thailand, Kamboja, Laos, Cina, Vietnam, dan Indonesia; diintroduksi ke Australia. Di Indonesia, sengon menyebar di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara; dibawa masuk dan dibudidayakan di Sumatra dan Kalimantan.[7]

Manfaat

Kayu

Sengon menghasilkan kayu yang ringan sampai agak ringan, dengan densitas 320–640 kg/m³ pada kadar air 15%[8]. Agak padat, berserat lurus dan agak kasar, namun mudah dikerjakan. Kayu terasnya kuning mengkilap sampai cokelat-merah-gading; kekuatan dan keawetannya digolongkan ke dalam kelas kuat III–IV dan kelas awet III–IV.[4] Kayu ini tidak diserang rayap tanah, karena adanya kandungan zat ekstraktif di dalam kayunya[3]. Akan tetapi percobaan kuburan di Filipina mendapatkan bahwa kayu sengon A. chinensis hanya bertahan 16 bulan, sementara kayu langir A. saponaria tahan hingga 3 tahun dan kayu weru A. procera bahkan mencapai 10 tahun[8].

Kayu sengon biasa dimanfaatkan untuk membuat peti, perahu, ramuan rumah dan jembatan[4]. Di Sabah, kayu A. chinensis diperdagangkan sebagai kayu ‘batai’, dalam campuran bersama kayu-kayu A. pedicellata dan Paraserianthes falcataria[8].

Agroforestri

Di perkebunan-perkebunan kopi dan teh, A. chinensis kerap ditanam sebagai naungan; khususnya dalam campuran bersama jeunjing (P. falcataria) dan dadap (Erythrina spp.). Sengon disukai sebagai tanaman hias dan peneduh taman, kebun, dan tepi jalan. Pohon ini juga ditanam untuk melindungi lahan berlereng serta untuk memperbaiki tanah.[3] Perakaran sengon bersifat mengikat nitrogen[7].

Kegunaan lain

Sebagaimana kulit kayu ki hiang, pepagan sengon mengandung bahan yang dapat digunakan untuk membius ikan di sungai. Pepagan ini pada masa lalu juga dimanfaatkan sebagai bahan sabun.[4]

Meskipun daun-daunnya dimakan kambing, akan tetapi kulit ranting-rantingnya beracun karena mengandung saponin.[3]

Jenis serupa

Perawakan dan kayu Paraserianthes falcataria sedikit banyak serupa dengan pohon dan kayu sengon, sehingga nama-namanya acap dipertukarkan. Oleh orang Jawa, P. falcataria —yang asalnya dari Maluku — disebut dengan nama sengon laut, sengon sabrang, atau sengon landi.


Sumber :
https://www.tokoperhutani.com/article/detil/kayu-sengon

Kayu Mahoni


Mahoni adalah anggota suku Meliaceae yang mencakup 50 genera dan 550 spesies tanaman kayu.[1]

Morfologi dan penyebaran

Mahoni termasuk pohon besar dengan tinggi pohon mencapai 35–40 m dan diameter mencapai 125 cm.[2] Batang lurus berbentuk silindris dan tidak berbanir.[2] Kulit luar berwarna cokelat kehitaman, beralur dangkal seperti sisik, sedangkan kulit batang berwarna abu-abu dan halus ketika masih muda, berubah menjadi cokelat tua, beralur dan mengelupas setelah tua.[2] Mahoni baru berbunga setelah berumur 7 tahun, mahkota bunganya silindris, kuning kecoklatan, benang sari melekat pada mahkota, kepala sari putih, kuning kecoklatan.[3] Buahnya buah kotak, bulat telur, berlekuk lima, warnanya cokelat. Biji pipih, warnanya hitam atau cokelat.[4] Mahoni dapat ditemukan tumbuh liar di hutan jati dan tempat-tempat lain yang dekat dengan pantai, atau ditanam di tepi jalan sebagai pohon pelindung.[5] Tanaman yang asalnya dari Hindia Barat ini, dapat tumbuh subur bila tumbuh di pasir payau dekat dengan pantai.[6]

Manfaat

Buah mahoni untuk pengobatan

Pohon mahoni bisa mengurangi polusi udara sekitar 47% - 69% sehingga disebut sebagai pohon pelindung sekaligus filter udara dan daerah tangkapan air.[7] Daun-daunnya bertugas menyerap polutan-polutan di sekitarnya. Sebaliknya, dedaunan itu akan melepaskan oksigen (O2) yang membuat udara di sekitarnya menjadi segar.[7] Ketika hujan turun, tanah dan akar-akar pepohonan itu akan mengikat air yang jatuh, sehingga menjadi cadangan air.[7] Buah mahoni mengandung flavonoid dan saponin[8]. Buahnya dilaporkan dapat melancarkan peredaran darah sehingga para penderita penyakit yang menyebabkan tersumbatnya aliran darah disarankan memakai buah ini sebagai obat, mengurangi kolesterol, penimbunan lemak pada saluran darah, mengurangi rasa sakit, pendarahan dan lebam, serta bertindak sebagai antioksidan untuk menyingkirkan radikal bebas[8], mencegah penyakit sampar, mengurangi lemak di badan, membantu meningkatkan sistem kekebalan, mencegah pembekuan darah, serta menguatkan fungsi hati dan memperlambat proses pembekuan darah[9].



Mahoni sebagai peneduh jalan.

Sifat Mahoni yang dapat bertahan hidup di tanah gersang menjadikan pohon ini sesuai ditanam di tepi jalan. Bagi penduduk Indonesia khususnya Jawa, tanaman ini bukanlah tanaman yang baru, karena sejak zaman penjajahan Belanda mahoni dan rekannya, Pohon Asam, sudah banyak ditanam di pinggir jalan sebagai peneduh terutama di sepanjang jalan yang dibangun oleh Daendels antara Anyer sampai Panarukan. Sejak 20 tahun terakhir ini, tanaman mahoni mulai dibudidayakan karena kayunya mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi. Kualitas kayunya keras dan sangat baik untuk meubel, furnitur, barang-barang ukiran dan kerajinan tangan. Sering juga dibuat penggaris karena sifatnya yang tidak mudah berubah. Kualitas kayu mahoni berada sedikit dibawah kayu jati sehingga sering dijuluki sebagai primadona kedua dalam pasar kayu. Pemanfaatan lain dari tanaman mahoni adalah kulitnya dipergunakan untuk mewarnai pakaian. Kain yang direbus bersama kulit mahoni akan menjadi kuning dan tidak mudah luntur. Sedangkan getah mahoni yang disebut juga blendok dapat dipergunakan sebagai bahan baku lem, dan daun mahoni untuk pakan ternak.[10]

Ekstrak biji pohon mahoni juga dapat digunakan sebagai pestisida nabati untuk mengendalikan hama pada pertanaman kubis, yaitu Plutella xylostella dan Crocidolomia binolalis khususnya pada saat hama berada pada stadia larva. Penggunaan insektisida botani merupakan salah satu alternatif pengendalian yang bertujuan untuk mengurangi dampak negatif akibat penggunaan insektisida sintetik yang tidak bijaksana.[11][12][13]

Syarat Tum

Mahoni dapat tumbuh dengan subur di pasir payau dekat dengan pantai dan menyukai tempat yang cukup sinar matahari langsung. Tanaman ini termasuk jenis tanaman yang mampu bertahan hidup di tanah gersang sekalipun. Walaupun tidak disirami selama berbulan-bulan, mahoni masih mampu untuk bertahan hidup.[10] Syarat lokasi untuk budi daya mahoni diantaranya adalah ketinggian lahan maksimum 1.500 meter dpl, curah hujan 1.524-5.085 mm/tahun, dan suhu udara 11-36 C.[14]

Sumber :
https://www.tokoperhutani.com/article/detil/kayu-mahoni

Kayu Sonokeling


Sonokeling (Dalbergia latifolia Roxb), kayu ini masuk kedalam kelas Leguminosae

Ciri Umum:

Warna: teras berwarna kecoklatan dengan garis-garis berwarna agak hitam, gubal berwarna putih keabu-abuan. Corak: permukaan bercorak indah berkat adanya garis yang berlainan warnanya. Tekstur: hampir halus. Arah Serat: lurus sampai berombak. Kilap: permukaan licin dan agak mengkilap. Kekerasan: sedang sampai keras.

Ciri Anatomi:

Pembuluh/Pori: baur, soliter dan sebagian berganda radial yang terdiri dari atas 2-3 pori, jumlah sekitar 5-8 per mm2, diameter tangensial sekitar 80-175 mikron, beidang perforasi sederhana, berisi endapan berwarna merah kecoklatan. Perenkima: agak banyak, bertipe paratrakea selubung sayap sampai bentuk sayap dan pita konfluen. Jari-jari: sempit sampai lebar, yaitu dari 1 seri sampai 4 seri, pendek, terdiri atas 7-8 sel, jumlahnya sekitar 8-12 per mm arah tangensial, dan pada bidang tangensial tampak ada tanda kerinyut.

Sifat dan Kegunaan:

Berat Jenis: kayu berat sedang sampai berat, dengan berat jenis rata-rata 0,83 (0,77-0,86); Kelas Awet: I; kelas kuat: II. kegunaan: bahan  perabot rumah tangga kelas tinggi, vinir indah, rangka pintu dan jendela, alat musik, barang ukiran, kayu perpatungan, barang yang perlu dilengkungkan.

Nama Lain:

Angsana brits, sonosungu (jawa)

Jenis yang mirip:

sonosiso (Dalbergia sissoides)

Sumber Rujukan
Mandang, Yance I dan I ketut Nuridja Pandit, 1997. Pedoman Identifikasi Jenis Kayu di Lapangan. PROSEA  Bogor.

Berbicara masalah kayu, terutama sebagai bahan untuk membuat furniture, mebel maupun barang-barang berkualitas lainnya yang terbuat dari bahan kayu mungkin akan sedikit membuat anda merasa kebingungan. Karena memang dari  sekian banyak jenis kayu yang dapat digunakan untuk membuat barang-barang seperti tersebut diatas, jenis kayu manakah yang memiliki kualitas paling baik? Setiap jenis kayu pastilah memiliki keunggulan dan kekurangannya masing-masing. Nah dalam artikel kali ini kita akan membahas mengenai keunggulan dan kekurangan dari salah satu jenis kayu yang ada, yaitu kayu sonokeling.

Keunggulan Dan Kekurangan Kayu Sonokeling
Kayu sonokeling merupakan salah satu jenis kayu keras yang indah dan mewah. Kayu sonokeling ini banyak dimanfaatkan untuk membuat barang-barang yang berkualitas tinggi karena memang kayu ini memiliki kualitas yang baik. Namun demikian, kayu sonokeling ini juga memiliki beberapa kekurangan, apa saja keunggulan dan kekurangan yang dimiliki oleh kayu sonokeling ini?

kayu sonokeling fingerboard guitar grade abc 50cm (2)

Keunggulan Kayu Sonokeling
Serat dan tekstur yang terdapat pada kayu sonokeling memiliki nilai keindahan dan nilai dekoratif sehingga menjadikan barang-barang yang terbuat dari kayu ini terlihat lebih mewah dan menarik.
Kayu teras sonokeling sangat awet dan tahan terhadap rayap dan jamur pembusuk kayu yang lainnya.
Kayu sonokeling memiliki warna yang cukup unik yaitu berwarna hitam keungu-unguan tanpa harus anda beri pewarna.
Kayu sonokeling merupakan salah satu jenis kayu yang dikenal indah dan juga kuat, namun demikian harganya lebih murah jika dibandingkan dengan kayu jati. Jadi kayu sonokeling ini akan sangat cocok bagi anda yang menginginkan kualitas kayu yang baik tetapi harganya jauh lebih murah.
Kekurangan Kayu Sonokeling
Pada bagian kayu teras sonokeling memang awet dan tahan terhadap serangan rayap dan juga jamur pembusuk kayu, namun tidak untuk bagian gubalnya (bagian tepi atau pinggir kayu). Pada bagian gubal kayu sonokeling sangatlah rentan terhadap rayap maupun jamur pembusuk lainnya, selain itu apabila ditempatkan pada tempat yang lembab, kayu gubal ini akan mudah mengeropos.
Kayu sonokeling memiliki warna hitam keungu-unguan secara natural, sehingga bagi anda yang suka dengan warna-warna yang terang tidak akan cocok dengan kayu ini karena kayu ini tidak bisa difinishing dengan warna-warna muda.
Itulah beberapa diantaranya keunggulan dan kekurangan dari kayu sonokeling. Anda sudah tidak ragu lagi bukan jika anda akan memilih barang-barang furniture maupun barang lain yang terbuat dari kayu sonokelingini? Semoga dapat memberikan manfaat kepada anda.

Sumber :
https://www.tokoperhutani.com/article/detil/kayu-sonokeling

Kayu Jati


Jati (Tectona grandis L.f) merupakan tanaman yang termasuk kedalam kelas Verbenacea.

Ciri Umum :

Warna : teras berwarna kuning emas kecoklatan sampai coklat kemerahan, mudah dibedakan dari gubal yang berwarna putih agak ke abu abuan. Corak: Dekoratif yang indah berkat jelasnya lingkaran tumbuh, sedikit buram dan berminyak. Tekstur: agak kasar sampai kasar dan tidak rata. Arah Serat: Lurus, Begelombang sampai agak berpadu. Lingkaran Tumbuh: tampak sangat jelas, baik pada bidang melintang, radial maupun tangensial. Kekerasan: Agak Keras.

Ciri Anatomi:

Pembuluh/Pori : tata lingkar, bentuk bundar sampai bundar telur, diameter tangensial bagian kayu awal sekitar 340-370 mikron, pada kayu akhirya sekitar 50-290 mikron, bidang perforasi sederhana, berisi tilosis atau endapan berwarna putih. Parenkima: yang bertipe paratrakea: bentuk selubung tipis, pada bagian kayu awal selubung itu agak lebar sampai membentuk pita marginal; yang bertipe apotrakea jarang, umumnya membentuk rantai yang terdiri atas sekitar 4 sel. Jari-Jari: lebar, terdiri atas 4 seri atau lebih, jumlahnya sekitar 4-7 per mm, arahnya tangensial, komposisi selnya homoselular (hanya sel-sel baring), tingginya dapat mencapai 0.9 mm

Sifat dan Kegunaan:

Berat Jenis: rata-rata 0,67 (0,62 - 0,75); Kelas awet: I-II; Kelas Kuat: II; Kegunaan: dipakai untuk berbagai keperluan, antara lain bahan bangunan, rangka pintu dan jendela, panel pintu, bantalan kereta api, perabot rumah tangga, karoseri badan truk, dek kapal, lumber sering, vinir indah.

Nama Lain:

Deleg, dodolan, jate, jateh, jatih, jatos, kulidawa

kayu ini juga merupakan salah satu jenis pohon yang tingkat pertumbuhannya lambat dan rendah, sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menunggu pohon jati hingga dapat dimanfaatkan kayunya. Pohon ini merupakan salah satu tanaman yang menghasilkan kayu dengan kualitas yang luar biasa dan sudah terkenal di seluruh dunia. Banyak sekali barang-barang yang terbuat dari kayu jati memiliki daya tahan yang sangat lama.


Sumber Pustaka:

Mandang, Yance I dan I Ketut Nuridja Pandit,1997, Pedoman Identifikasi Kayu DI Lapangan. Yayasan PROSEA Bogor.